Jumat, 26 Agustus 2016

White Magic untuk mengobati orang itu ya dari setan juga







Sejak usia lima tahun, Lastri Tampubolon telah melihat hantu dan setan yang sangat banyak. Hal itu membuatnya ketakutan. Roh jahat itu meneror hampir setiap malamnya. Akibat terganggu atas hal tersebut, tak jarang sang ayah sering bertindak kasar terhadapnya. Hal ini yang membuatnya menjadi pribadi yang kasar.


Suatu hari lastri mengalami gangguan selama satu minggu layaknya orang yang kerasukan. Hal ini membuat keluarganya memanggil seorang dukun. Namun pernyataan seorang dukun itu sungguh tidak masuk akal. Menurutnya Lastri tidak perlu diobati karena Lastri akan menjadi seorang dukun yang hebat. Karena menurut sang dukun itu, terdapat banyak roh halus didalam jiwa Lastri. Orangtua Lastri pun percaya akan hal itu karena faktor ketidaktegaan terhadap penderitaan yang dialami anaknya.


Kejadian itu belum usai. Suatu malam Lastri mengaku kemasukan roh dari nenek moyangnya. Hidupnya seketika berubah. “Ada kekuatan yang luar biasa, saya jadi suka untuk mengobati yang sakit. Dan saya digerakan oleh roh itu, untuk mengobati.” Karena hal ini, desanya pun gempar akan ketenarannya mengobati warga. Hal ini membuat sang ayahnya yang terpandang di desa itu melaranga untuk membuka praktek pengobatan itu.


Ketika tak berapa lama sang ayah meninggal, Lastri pun bertambah kuat ilmu dan membuka praktek pengobantannya. Adakalanya dirinya dapat terbang dan mengambil roh orang lain untuk digunakan memuaskan nafsunya. Namun hanya orang yang hidup didalam Tuhanlah yang tidak mampu diganggunya. Adakalanya dirinya merasa terganggu dengan masa depannya ketika melihat teman-teman lainnya telah sukses dalam usaha, telah berumah tangga dan mencapai taraf hidup yang memuaskan. Dikala kekuatannya bertambah, namun kekhawatiran akan masa depan, terus menghantuinya.


Hingga suatu ketika dirinya berteriak disebuah kebunnya untuk mempertanyakan hadirat Tuhan. Lastri merasa ada suara yang menyuruhnya untuk memilih dua jalan, jalan kanan untuk menjadi dukun yang besar dengan konsekuensi menjadi gila, dan jalan kiri untuk mengikut Tuhan. Hal itu membuatnya meminta saran kepada salah satu karibnya. Karibnya pun menghendaki dirinya untuk tidak memilih suara menjadi dukun namun mendoakan yang terbaik baginya.


Lastri pun memohon kepada Tuhan, agar didatangkan hamba Tuhan untuk membantunya berdiskusi dan mengenal Firman Tuhan. Ketika beberapa hamba Tuhan berdoa untuknya, Lastri pun mulai bermanifestasi. Seketika itupula dirinya melihat ada roh ular, roh babi dan roh orang mati yang membuatnya ketakutan saat ini.
Ketika roh itu keluar, Lastri merasa bebannya terangkat dan dirinya merasa kelegaan dan kelepasan. “dan disitulah saya bertobat, dan saya terima Tuhan Yesus, jadi Tuhanlah Juruselamat saya.” Ungkapnya.


Setelah mengalami pemulihan, dirinya berangkat ke Jakarta. Disanalah dirinya bertumbuh didalam Tuhan Yesus dan meninggalkan perdukunan. “Iblis atau roh perdukunan itu hanya menjatuhkan dan membodohi saya. Yesus baik telah mengubahkan kehidupan saya, telah menyembuhkan saya, telah melepaskan saya.”

Cara Gereja Setan Menarik Pengikut






Mongol yang sekarang telah menjadi Komedian di Standup Comedy adalah mantan Pimpinan Gereja Setan di Indonesia Timur. Kali ini kita bukan ingin membahasa tentang mongol yang telah menjadi komedian, tetapi kisah hidupnya saat masih aktiv di Gereja Setan. Dan berikut ini adalah beberapa cara-caranya.


Salah satu cara adalah dengan mengajak anak-anak muda untuk makan di restoran yang mahal. Kalau anak-anak muda itu biasa makan di Warteg, diajak makan di restoran sekelas The Dome, misalnya, membuat mereka terperangah. Ketika bon atau 'bill' disodorkan, para pemimpin GS yang mentraktirnya sengaja mengekspos mahalnya atau besarnya 'bill' itu.

Anak-anak muda yang sudah ditraktir demikian mahalnya, mana mungkin akan menolak ketika setelah makan mereka diajak, "Yuk, kita ibadah Sabtu malam besok?" Begitu mereka datang untuk pertama kali di dalam ibadah GS, mereka akan disambut dengan hangat, dan pada acara perkenalan, mereka yang baru pertama kali hadir dalam ibadah di GS akan diminta maju dan harus bersedia mengeluarkan darah untuk dicampur dalam 'air suci' sebagai ritual penyambutan mereka. Darah yang bercampur air suci itu kemudian harus diminum setelah diberi mantera-mantera. Sejak saat itu anak muda yang bersangkutan sudah masuk dalam perjanjian darah dengan Lucifer.

Cara kedua adalah melalui jabat tangan dengan pemimpin GS yang di jarinya dipasang cincin pentagram menghadap ke dalam kepalan tangan dan ketika jabat tangan itu diusahkan dengan sengaja agar ujung cincin melukai anak muda yang menjadi target mereka. Dengan aksi menyesal, orang yang melukai itu akan meminta maaf dan mengelap tetesan darah. Selanjutnya darah itu akan diberi mantera agar terjadi ikatan darah antara orang itu dengan Lucifer. Sejak saat itu, para pemimpin GS tinggal memanggil nama anak muda itu, maka dia bagai kerbau dicocok hidung akan menjadi pengikut GS.

Cara lain adalah melalui penyusupan para pengikut GS di dalam kebaktian-kebaktian gereja. Mereka berani mengikuti ibadah di gereja-gereja tradisi dari awal sampai akhir dan dalam kesempatan itu mereka akan menyerang jemaat yang ditargetkan dengan kuasa-kuasa jahat. Jika di kebaktian karismatik, mereka tidak akan berani datang dalam acara Praise & Worship, karena setan tidak tahan tinggal dan berhadapan dalam hadirat Tuhan. Namun kini banyak ibadah karismatik juga tidak ada hadirat Tuhan, sehingga mereka berani 'ngobok-ngobok' ibadah raya sejak awal.

Nah, jika dalam kebaktian karismatik yang kuat hadirat Tuhannya, mereka biasanya berani menyerang pada waktu altar call. Mereka yang diserang bisa rebah ke lantai, dan biasanya orang yang rebah ke lantai tidak diperhatikan oleh pendeta yang melayani, karena pendeta itu biasanya konsentrasi kepada jemaat yang belum rebah. Orang-orang Kristen yang diserang kuasa kegelapan sehingga rebah ke lantai ini akan menjadi target yang empuk untuk menjadi pengikut GS.

Kamis, 25 Agustus 2016

KESAKSIAN : Pengalaman Hidup Bersama Tuhan



Pengalamanku hidup bersama Tuhan:
Aku lahir anak pertama dan memiliki 3 adik yang semuanya wanita, sejak aku kecil ke dua orang tuaku selalu mencelaku yang di anggapnya kurang cantik di banding ke 3 adikku..di usia 7 tahun, saat saya sudah tidak sanggup lagi dengan tekanan dalam keluarga..aku pergi dari rumah dan hatiku selalu berdoa bila aku masih di kasih kesempatan untuk hidup di dunia, saya minta kepada Tuhan diberi orang tua yang bisa menerima aku apa adanya..TUHAN MENGUBAH HIDUPKU..ada seorang bangsawan mengangkatku menjadi anak dan di sekolahkan sampai aku lulus SPK, jadilah aku seorang perawat, setelah aku kerja di Jakarta, uang gajiku bisa ku tabung untuk kursus salon.
Singkat cerita aku sudah 12 thn malang melintang kerja di salon akhirnya saya menikah dan sukses di Jakarta, punya usaha distributor kosmetik dan salon, kedua orang tuaku yang dulu mencela berubah memuji karena saya di anggap paling kaya dari saudaraku yang lain.
Bahagia belum berpihak padaku, selama 7 thn menikah tidak kunjung mendapat keturunan, yaitu seorang anak yangku harapkan. Hari-hariku selalu gelisah, pada usiaku yang ke 33 thn saya baru hamil dan saat anakku masih bayi suamiku meninggal, jadilah saya janda dan merawat anakku seorang diri. Kemudian aku membawa anakku pulang ke Solo, namun kepulanganku ke Solo justru semakin memperpanjang penderitaanku, semua saudaraku yang dulu pernah meminjam uangku memusuhiku karena takut saya tagih. Untuk menyambung hidupku bersama anakku yang sudah yatim, aku bekerja apa saja, termasuk berkeliling jalan kaki menawarkan roti dan salon dari rumah ke rumah, tetapi aku tidak menyerah dan cengeng, aku tetap tegar di saat sesulit apapun.
Aku punya anak, aku punya TUHAN..di saat aku berdoa pertolongan Tuhan datang..aku kembali di berkati usaha salon dan rias pengantin, jadilah aku Bunda Esther Rias Pengantin (nama FB). Sekarang kesibukanku sehari-hari selain mengurus salon, menjadi salah satu pendoa di Layanan Doa Sion Online. Semua karena kasih-Nya dan anugerah TUHAN. Amin

God is Knitting our Lives



Ketika saya membolak-balik file kesaksian yang lama, saya menemukan kesaksian yang pernah ditulis oleh Sdr. Taufik Wibowo, dan saya rasa kesaksian ini masih akan memberkati kita yang ada dalam pergumulan. Silakan baca kisah yang telah saya edit agar lebih enak dibaca ini:

"Apa yang kau alami kini, 
Mungkin tak dapat engkau mengerti.
Satu hal, tanamkan di hati,
Indah semua yang Tuhan b'ri 

Tuhanmu tak akan memberi 
Ular beracun pada yang minta roti. 
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu... 

Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia. 
Saatnya 'kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasih-Nya"

Syair lagu rohani diatas yang sempat dipopulerkan oleh kelompok vocal Yerikho telah membawa berkat bagi banyak anak-anak Tuhan yang sedang mengalami pergumulan; dan setiap kali saya menyanyikannya saya merasakan sentuhan kasih Tuhan yang begitu besar yang pernah saya alami setelah melewati masa kesesakan. Kesaksian ini untuk mengenang kepergian kedua orangtuaku beberapa puluh tahun lalu. 

Mulanya saya berasal dari keluarga yang baik-baik sebagai anak kelima dari enam bersaudara, namun adik saya diadopsi oleh Om dan Tante saya sebagai anak, karena mereka tidak punya keturunan, sehingga di rumah saya adalah anak bungsu. Pada saat kelahiran saya, Papi saya belum hidup dalam Tuhan, beliau masih menganut kepercayaan orang tuanya (Konghuchu). Mami saya setiap kali pulang dari gereja sering mendapat omelan dari Papi saya, diantaranya yang saya ingat: "Gereja lagi, gereja lagi.... anak enggak diurusin, rumah enggak diurusin, gereja terus diurusin!" Tapi Mami saya tetap taat dan tunduk pada Papi saya dan terus mendoakannya agar beliau lekas bertobat. 

Sejak kecil hingga berumur sekitar 4 - 5 tahun saya gampang sakit. Bila terkena demam tinggi, saya sering kejang-kejang. Sehari saya bisa kejang sampai 3 atau 4 kali. Keadaan itu membuat Mami saya takut dan hanya bisa berdoa saja kepada Tuhan. 

Suatu saat Mami saya mengajak Papi saya untuk membawa saya ke gereja dalam acara "Penyerahan Anak". Gereja kami tidak menganut Baptisan Anak, hanya pemberkatan kedua orangtua dan anaknya. Setelah beberapa kali menolak, tiba-tiba Papi saya setuju membawa saya dalam acara "Penyerahan Anak" di gereja. Maka sejak saat itu, saya menjadi anak yang bertumbuh sehat, meskipun kurus, tapi jarang sakit-sakitan sampai parah kecuali batuk-pilek biasa. Dan Puji Tuhan, otak saya tetap terpelihara, meskipun kata orang demam dengan suhu tinggi yang saya alami sejak kecil sampai beberapa kali bisa membuat saya idiot atau paling tidak menjadi bodoh. Tuhan itu baik buat saya, walaupun prestasi saya pas-pasan, akhirnya saya bisa menyelesaikan studi saya di Sekolah Tinggi Informatika & Komputer pada tahun 1992. 

Sejak saya jarang sakit, maka Papi saya pun mulai terbuka "mata rohani"-nya. Sedikit demi sedikit dia mau ke gereja. Mulanya hanya mengantar Mami saya sampai di depan gereja, lama kelamaan diajak masuk, lalu mau ikut kebaktian, dan terlibat dalam pelayanan sampai pernah diangkat menjadi Ketua Majelis. Secara daging tidak ada alasan sedikitpun bagi saya untuk bermegah bahwa saya telah menjadi pahlawan penyelamat di dalam keluarga saya. Waktu itu saya masih balita, saya belum mengerti apa-apa, tapi Tuhan bisa pakai saya untuk membawa Papi saya dan seluruh keluarga saya hidup dalam keluarga Tuhan yang berbahagia. 

Dari situ saya bisa mengambil pelajaran, bahwa asalkan kita mau menjadi seperti anak kecil, Tuhan bisa pakai kita sebagai saksi-Nya dan sebagai alat-Nya untuk membawa orang lain mengenal Dia yang sesungguhnya, meskipun kita harus bayar harga bila untuk itu kita harus melampaui kesesakan dan kesakitan. 

Ada kebiasaan buruk yang belum bisa Papi saya lepaskan, yaitu merokok! Papi saya termasuk perokok berat. Suatu kali Papi saya jatuh sakit demam dan Mami saya menyarankan agar Papi saya berhenti merokok. Ajaib sekali, setelah sembuh dari sakit, Papi saya langsung putus hubungan dengan yang namanya rokok. Tanpa sedikit dikurangi, tapi langsung stop. Meskipun ada rasa berat bila berdekatan dengan orang lain/tamu yang menawarkan rokok, tapi Papi saya sanggup menolaknya. Padahal sebelumnya minimal 3 bungkus rokok kretek habis dalam sehari. Jika meninggalkan rumah dia lebih tenang jika ketinggalan kacamata atau KTP-nya daripada ketinggalan rokok !

Saya pun ikut ambil bagian dan aktif dalam kegiatan pelayanan Sekolah Minggu, Remaja dan Kepemudaan. Semuanya berjalan dengan baik, hidup keluarga kami damai dalam Tuhan, tidak pernah berkekurangan ataupun berkelimpahan, Kehidupan kami selalu berkecukupan di dalam Tuhan, sampai suatu saat Papi dan Mami saya pergi menengok famili di Jawa Tengah. Ketika pulang kembali ke Jakarta, besok siangnya kami mendengar kabar buruk. Benar-benar seperti "petir di siang hari bolong" kami mendapat kabar bahwa tanggal 23 September 1985 mereka mengalami kecelakaan di Brebes. Mobil travel yang mereka tumpangi masuk ke perkampungan untuk menghindari Operasi Zebra waktu itu. Dan saat melintasi rel kereta api yang tidak berpintu, sebuah KA Gaya Baru jurusan Jakarta-Surabaya menabrak mobil travel tersebut. Mobil itu terpental, kemudian terseret 60 meter. Enam orang dari sebelas penumpang tewas seketika, termasuk kedua orangtua saya. 

Kami menjerit kepada Tuhan. Ini sungguh sangat tidak adil! Bagaimana mungkin Tuhan membuat kedua orangtua saya mati sekaligus secara mengenaskan? Mana perlindungan Tuhan? Mana janji-Nya yang menyatakan bahwa Ia tidak membuat rancangan kecelakaan? Bagaimana kami menunjukkan kepada saudara-saudara kami yang lain yang belum di dalam Tuhan bahwa Tuhan itu Penolong, Tuhan itu Pelindung dan Tuhan itu Penyelamat? Apa sebenarnya kesalahan dan dosa mereka? Padahal Mami saya pendoa yang kuat, sampai Tuhan pakai saya agar Papi saya bertobat 100%. Jangankan pergi ke luar kota, sebelum pergi ke pasar yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah kami, Mami saya masuk kamar -berlutut dan berdoa minta pimpinan Tuhan! Saat itu kami berlima belum ada satu pun yang menikah, saya masih kuliah di Semester 3. 

Kami semua berangkat ke Tegal untuk bertemu kedua orangtua kami di dalam peti mati! Gila ... gila ... ini benar-benar gila! Kami sulit sekali menerima kenyataan ini. Pelayanan perkabungan dilakukan oleh gereja setempat, meskipun rombongan gereja kami dari Jakarta ikut datang dalam malam kebaktian penghiburan. Semua nasihat-nasihat dan semua kata-kata penghiburan dari rekan, kerabat, saudara-saudara, sampai Pendeta, tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan: "Kenapa semua ini terjadi?" 

Mereka berkhotbah tentang penderitaan, mereka berkhotbah tentang Ayub, mereka memakai Mazmur untuk menghibur. Semuanya kami anggap sebagai "lips service". Mereka tidak mengerti kami dan kami malah kecewa dengan pernyataan Pendeta kami bahwa sebenarnya hari Minggu kemarin adalah tugas Papi saya sebagai pelayan Perjamuan Kudus, namun tidak ada yang bisa menggantikannya sehingga pelayanan yang biasanya dijalani oleh 4 orang Pelayan, saat itu hanya 3 orang saja. Pendeta itu menghimbau kepada jemaat agar bila diberi tugas pelayanan jangan sampai ditolak. Seolah-olah itulah jawabannya: karena Papi saya tidak melayani Perjamuan Kudus maka semuanya ini terjadi! Apakah Tuhanku sekejam itu? Rasanya tidak mungkin. Kalaupun toh begitu, apakah adil hukuman seberat itu hingga nyawa Papi dan Mami melayang? Tuhan memang membuat Yunus menderita karena menolak kehendak-Nya. Tapi apakah Yunus mati terkoyak-koyak dimakan ikan hiu? Tidak 'kan? Yunus memang dimakan ikan dan selama tiga hari di perut ikan, tetapi ia tetap selamat dan utuh! Memang Ayub menderita harta dan keluarganya habis, tetapi Tuhan menyayangkan nyawanya. Apalagi sebenarnya Papi saya sudah meminta ijin dan tidak meninggalkan pelayanan begitu saja tanpa pamit. Kenapa Tuhan biarkan Papi dan Mami saya celaka? Kenapa, Tuhan? Kenapa?

Setelah kepergian Papi dan Mami kami tetap menjalankan ibadah dan pelayanan kami secara rutin, meskipun hati ini kosong. Kami berdoa, tapi tidak beriman. Saat itu bagi kami, ke Gereja atau tidak, melayani atau tidak, berdoa atau tidak, kalau memang lagi sial sama saja. Kalau Tuhan sudah punya mau, siapa yang bisa menolak? Makanya bagi saya, buat apa sungguh-sungguh? Jadi Kristen yang biasa-biasa sajalah, pokoknya yah asal sudah ke Gereja dan berdoa, cukuplah! 

Hal ini berlangsung cukup lama, saya sakit hati kepada Tuhan, tapi tidak berani meninggalkan-Nya, persis seperti anak yang lagi ngambek. Secara lahiriah kami melakukan ibadah, tetapi secara batiniah sebenarnya munafik! Semenjak peristiwa 23 September 1985, bagi saya Tuhan terasa jauh bahkan nyaris tidak ada ! 

Semua terus berjalan seperti biasa, sampai perlahan-lahan Roh Tuhan mulai mengambil inisiatif untuk mengajarkan kepada saya makna semua ini. Benar, bagaimana pun juga penderitaan akan melahirkan sesuatu yang baik dan berguna. Dulu waktu saya kecil saya sakit-sakitan, itulah penderitaan, tetapi setelah itu Papi saya bisa dimenangkan. Sekarang Papi dan Mami saya mati seketika dalam kecelakaan. Memang mereka menderita saat itu. Tapi setelah itu apakah saya ikut mati? Setelah mereka pergi, memang kami seperti anak ayam kehilangan induk, tetapi apakah kami menjadi kekurangan? Apakah kami mengemis dan meminta seperti gelandangan? 

Ternyata Janji Tuhan bagi umat-Nya yang percaya tetap YA dan AMIN ! Sampai hari ini, saya masih bisa hidup mandiri tanpa kedua orangtua saya. Bahkan kini saya telah memperoleh seorang istri yang cantik dan seorang anak lelaki yang cakap dan sehat. Sungguh semuanya itu bukan karena kuat gagah saya, tapi darimana lagi semuanya itu datang, selain dari Dia yang telah memelihara saya meskipun sekian lama saya sakit hati pada-Nya? Seandainya saat ini orangtua saya masih hidup, mungkin saya masih tinggal "di bawah ketiak mereka", saya tidak pernah akan bisa merasakan kekuasaan-Nya yang besar itu yang telah mengangkat saya dan menggendong saya dengan Kasih-Nya! 

Dulu saya anak Papi dan Mami, sekarang saya anak Raja diatas segala raja! Terima kasih, Tuhan! Dulu saya menganggap Engkau kejam, tapi Engkau tetap mengasihi saya bahkan semua yang baik telah saya terima dari-Mu.

Saudara-saudaraku, jika saat ini anda mengalami kesesakan, penderitaan dan pergumulan yang berat, bersabarlah! Nantikanlah sesuatu yang indah yang akan diberikan Tuhanmu. Saat ini Tangan-Nya sedang merenda suatu karya yang Maha Indah yang akan engkau nikmati dalam hidupmu. Yakin dan percayalah Tuhanmu tak akan memberi ular beracun kepada anak-Nya yang meminta roti, karena pencobaan yang kamu alami tidak akan melebihi kekuatanmu. Dan dibalik awan gelap yang menaungi kita saat ini, kita akan menikmati curahan hujan berkatNya! Kiranya gada dan tongkat-Nya akan menghibur engkau, menguatkan engkau dan memberkati engkau. Amin! Tuhan memberkati!

When the Glory of God Comes Down



Seorang hamba Tuhan bercerita tentang pengalamannya ketika kemuliaan Tuhan turun. Pada suatu hari ia sedang mengadakan seminar dan sedang naik lift, akan menuju kamar hotelnya. Di dalam lift itu, ada orang lain, yang diketahui belakangan bahwa ia seorang pengusaha. Tidak seperti lazimnya di dalam lift yang diam-diaman, hamba Tuhan ini berdoa di dalam hati agar kemuliaan Tuhan turun.

Ketika kemuliaan Tuhan turun, bersamaan dengan itu datanglah hikmat, pengertian, dan pengetahuan (wisdom, understanding, and knowledge). Tiba-tiba saja hamba Tuhan ini mengetahui semua kisah kehidupan seseorang di dalam lift itu.

"Anda 'kan pengusaha di bidang properti ya?"
"Ya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya orang itu.
"Anda sekarang punya masalah dengan penjualan rumah di jalan Orchad."
"Ya, siapa yang memberi tahu anda?"
"Yesus yang di dalam saya, Dialah yang memberi tahu saya! Dia mengasihi anda!"
Seketika itu juga pucatlah muka orang itu dan menangis...

Pintu lift terbuka.

"Saya akan ke kamar hotel saya. Apabila anda perlu bantuan saya, mari kita bicara."

Orang itu menganggukkan kepalanya dan ikut masuk ke kamar hotel. Di situ ia mencurahkan segala isi hatinya, pergumulannya, keluarganya yang diambang perceraian, dan lain-lain.

"Tuhan Yesus yang mengasihi anda ingin memberesken seluruh urusan anda. Mau?"
"Tentu!"
"Bagaimana caranya?"
"Terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda. Undanglah Ia masuk ke dalam kehidupan anda, dan persilakan Dia mengambil alih kendali hidup anda, kendali bisnis anda, kendali rumah tangga anda. Gimana?"
"Ya, saya mau..."

Demikianlah penyampaian kabar baik begitu mudahnya ketika kemuliaan Tuhan turun. Dia yang akan melakukan bagian-Nya, kita tinggal menaati apa yang harus kita lakukan.

Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2 Korintus 4:6)

Apabila kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus, maka kemuliaan Allah itu akan mengerjakan sesuatu di dalam diri kita dan diri banyak orang.

Ketika kemuliaan Tuhan datang, Ia melakukan apa yang ingin Ia lakukan. Ia bisa menyembuhkan, Ia bisa memulihkan keluarga, Ia bisa memulihkan keuangan kita, Ia bisa memenuhi permintaan kita, Ia bisa membuat air menjadi anggur, Ia bisa melipat-gandakan lima roti dan dua ekor ikan untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang, dan lain-lain.

Sayangnya, banyak gereja tidak terlalu membebaskan kemuliaan Allah datang, karena banyak pemimpin gereja tidak dapat mengendalikan situasi ketika kemuliaan Allah datang. Para pemimpin gereja lebih suka ibadah raya yang terkendali: selesai ibadah harus jam sekian, urutan acaranya harus seperti ini, liturgi pujian dan penyembahannya harus dua lagu tenang, dua lagu pujian, satu lagu tenang. Semua harus terkendali, dan dalam situasi terkendali itu Roh Kudus tak dibiarkan beracara dengan bebas....



****

Ikat janji atau covenant membuat perbedaan yang sangat besar dalam kehidupan anda dan keturunan anda. Ikat janji anda dengan Tuhan memberikan kepastian kehidupan, memberikan kasih setia dan kebenaran Tuhan, pertolongan dan perlindungan Tuhan. Ikat janji anda dengan pemimpin yang memiliki ikat janji dengan Tuhan menyediakan penudungan rohani dan mengalirkan berkat-berkat yang Tuhan berikan melalui pemimpin anda.

Jangan menyesal seperti Ham, anak Nuh, yang tidak menghormati ikat janji Tuhan, sehingga keturunannya menjadi orang-orang terkutuk, orang-orang yang jahat, orang-orang yang menyusahkan banyak orang. Jangan hidup biasa-biasa saja, tanpa arti dan tanpa kepuasan, di luar ikat janji!

Buku ini menyajikan banyak pelajaran yang mengubah kehidupan anda!

PUSH UP


Ada seorang Profesor mata kuliah Agama yang bernama Dr. Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar ke-Kristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil di kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi Kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas profesor itu.

Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang bisa kamu lakukan?" Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap malam." "200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan. "Apakah kamu dapat melakukan 300?" Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus." "Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya? " tanya Dr. Christianson. "Ok, saya bisa coba," jawab Steve.

"Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya? " tanya sang profesor. Steve menjawab, "Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya." Dr. Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini." Dr. Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donat. Bukan donat yang biasa tetapi yang besar dan dengan krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donat ini?" Cynthia menjawab, "Ya". Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donat ini?" "Tentu saja!" Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donat di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, "Joe, apakah kamu mau suatu donat?" Joe berkata, "Ya." Dr. Christianson bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donatnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donatnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donat mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, "Scott, apakah kamu mau donat?" Jawaban Scott adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?" Dr. Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya." Lalu Scott berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donatnya." Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donat yang tidak ia kehendaki?" Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, "Hei! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!" Dr Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donat saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya." Ia lalu menempatkan satu donat di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr. Christianson bertanya kepada Jenny, "Jenny, apakah kamu menginginkan donat ini?" Dengan tegas Jenny menjawab, "Tidak." Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donat yang tidak ia mau?"

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donat. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, "Tidak!" dan semua donat dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donat itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr. Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donat karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push-upnya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?" Dr.Christianson berpikir sejenak dan berkata, "Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, "Jangan! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!" Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."

Professor Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?"

Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donat kepadanya." Dr.Christianson berkata, "Ok Steve. Jason, kamu mau donat?" Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja, berikan saya donat."

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donat. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donat?" Linda dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih."

Professor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donat yang tidak ia mau?" Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan. "Susan, kamu mau donat ini?" Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr. Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?"

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donat itu, tidak peduli apakah mereka menginginkannya atau tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donat?" Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, "Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah."

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. "Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia," kata professor dan ia menambahkan, "Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata." Berpaling kepada kelas, profesor berkata, "Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan Putra satu-satu-Nya, tetapi menyerahkan Dia untuk kita semua. Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya sudah lunas dibayar."

"Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?" (F.NAOMI.HS - Milis Terang Dunia)

God Found An Atheist



John Powell a professor at Loyola University in Chicago writes about a student in his Theology of Faith class named Tommy:

Some twelve years ago, I stood watching my university students file into the classroom for our first session in the Theology of Faith. That was the first day I first saw Tommy. My eyes and my mind both blinked. He was combing his long flaxen hair, which hung six inches below his shoulders.

It was the first time I had ever seen a boy with hair that long. I guess it was just coming into fashion then. I know in my mind that it isn’t what’s on your head but what’s in it that counts; but on that day I was unprepared and my emotions flipped.

I immediately filed Tommy under "S" for strange ... very strange. Tommy turned out to be the "atheist in residence" in my Theology of Faith course. He constantly objected to, smirked at, or whined about the possibility of an unconditionally loving Father-God. We lived with each other in relative peace for one semester, although I admit he was for me at times a serious pain in the back pew.

When he came up at the end of the course to turn in his final exam, he asked in a slightly cynical tone: "Do you think I’ll ever find God?"

I decided instantly on a little shock therapy. "No!" I said very emphatically.

"Oh," he responded, "I thought that was the product you were pushing."

I let him get five steps from the classroom door and then called out: "Tommy! I don’t think you’ll ever find Him, but I am absolutely certain that He will find you!" He shrugged a little and left my class and my life.

I felt slightly disappointed at the thought that he had missed my clever line: "He will find you!" At least I thought it was clever. Later I heard that Tommy had graduated and I was duly grateful.

Then a sad report, I heard that Tommy had terminal cancer. Before I could search him out, he came to see me. When he walked into my office, his body was very badly wasted, and the long hair had all fallen out as a result of chemotherapy. But his eyes were bright and his voice was firm, for the first time, I believe. "Tommy, I’ve thought about you so often. I hear you are sick!" I blurted out.

"Oh, yes, very sick. I have cancer in both lungs. It’s a matter of weeks."

"Can you talk about it, Tom?"

"Sure, what would you like to know?"

"What’s it like to be only twenty-four and dying?"

"Well, it could be worse."

"Like what?"

"Well, like being fifty and having no values or ideals, like being fifty and thinking that booze, seducing women, and making money are the real ‘biggies’ in life."

I began to look through my mental file cabinet under "S" where I had filed Tommy as strange. (It seems as though everybody I try to reject by classification God sends back into my life to educate me.)

But what I really came to see you about," Tom said, " is something you said to me on the last day of class." (He remembered!) He continued, "I asked you if you thought I would ever find God and you said, ‘No!’ which surprised me. Then you said, ‘But he will find you.’ I thought about that a lot, even though my search for God was hardly intense at that time. (My "clever" line. He thought about that a lot!) But when the doctors removed a lump from my groin and told me that it was malignant, then I got serious about locating God. And when the malignancy spread into my vital organs, I really began banging bloody fists against the bronze doors of heaven.

But God did not come out. In fact, nothing happened. Did you ever try anything for a long time with great effort and with no success? You get psychologically glutted, fed up with trying. And then you quit.

Well, one day I woke up, and instead of throwing a few more futile appeals over that high brick wall to a God who may be or may not be there, I just quit. I decided that I didn’t really care ... about God, about an afterlife, or anything like that. "I decided to spend what time I had left doing something more profitable. I thought about you and your class and I remembered something else you had said: ‘The essential sadness is to go through life without loving. But it would be almost equally sad to go through life and leave this world without ever telling those you loved that you had loved them.’ "So I began with the hardest one: my Dad. He was reading the newspaper when I approached him."

"Dad". . .

"Yes, what?" he asked without lowering the newspaper.

"Dad, I would like to talk with you."

"Well, talk."

"I mean. .. It’s really important."

The newspaper came down three slow inches. "What is it?"

"Dad, I love you. I just wanted you to know that." Tom smiled at me and said with obvious satisfaction, as though he felt a warm and secret joy flowing inside of him: "The newspaper fluttered to the floor. Then my father did two things I could never remember him ever doing before. He cried and he hugged me.

And we talked all night, even though he had to go to work the next morning. It felt so good to be close to my father, to see his tears, to feel his hug, to hear him say that he loved me. "It was easier with my mother and little brother. They cried with me, too, and we hugged each other, and started saying real nice things to each other. We shared the things we had been keeping secret for so many years. I was only sorry about one thing: that I had waited so long. Here I was just beginning to open up to all the people I had actually been close to.

"Then, one day I turned around and God was there. He didn’t come to me when I pleaded with him. I guess I was like an animal trainer holding out a hoop, ‘C’mon, jump through.’ ‘C’mon, I’ll give you three days .. .three weeks.’ Apparently God does things in His own way and at His own hour. "But the important thing is that He was there. He found me.

You were right. He found me even after I stopped looking for Him."

"Tommy," I practically gasped, "I think you are saying something very important and much more universal than you realize. To me, at least, you are saying that the surest way to find God is not to make Him a private possession, a problem solver, or an instant consolation in time of need, but rather by opening to love. You know, the Apostle John said that. He said God is love, and anyone who lives in love is living with God and God is living in him.’ Tom, could I ask you a favor? You know, when I had you in class you were a real pain. But (laughingly) you can make it all up to me now. Would you come into my present Theology of Faith course and tell them what you have just told me? If I told them the same thing it wouldn’t be half as effective as if you were to tell them."

"Oooh . . . I was ready for you, but I don’t know if I’m ready for your class."

"Tom, think about it. If and when you are ready, give me a call." In a few days Tommy called, said he was ready for the class, that he wanted to do that for God and for me. So we scheduled a date. However, he never made it.

He had another appointment, far more important than the one with me and my class. Of course, his life was not really ended by his death, only changed.

He made the great step from faith into vision. He found a life far more beautiful than the eye of man has ever seen or the ear of man has ever heard or the mind of man has ever imagined.

Before he died, we talked one last time. "I’m not going to make it to your class," he said.

"I know, Tom."

"Will you tell them for me? Will you . . . tell the whole world for me?"

"I will, Tom. I’ll tell them. I’ll do my best."

So, to all of you who have been kind enough to hear this simple statement about love, thank you for listening. And to you, Tommy, somewhere in the sunlit, verdant hills of heaven: "I told them, Tommy . ... ...as best I could."

Kesaksian Pdt. Bambang Yonan



Selama 24 tahun hidup saya jauh dari Tuhan. Kegagalan dan kesulitan ekonomi adalah sahabat setia yang selalu menemani saya pada waktu itu. Apa saja yang saya lakukan selalu jauh dari keberhasilan dan keberuntungan, sampai suatu saat dimana waktu Tuhan tiba atas kehidupan saya melalui kehadiran saya dalam suatu persekutuan doa rumah tangga di Surabaya. Tuhan menjamah dan mengubah hidup saya dengan cara yang khusus, yakni melalui pelayanan pujian dan penyembahan. Saat itu saya merasakan hadirat Tuhan yang sangat kuat, seakan-akan Tuhan sendiri hadir dan Ia memeluk saya dalam kasih-Nya dan setelah itu hidup saya dipenuhi dengan "kehausan dan kelaparan akan Tuhan". Puji Tuhan, ternyata rasa "haus dan lapar" tersebut masih ada sampai dengan hari ini.

Sejak saat itu saya ikut serta dalam gerakan "Pemulihan Pondok Daud" yang dimotori oleh Bapak Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo yang sekarang melayani Tuhan sebagai Gembala Sidang GBI Jl. Gatot Subroto - Jakarta. Saya melayani Tuhan dalam gerakan pemulihan Pondok Daud mulai dari pelayanan sebagai operator overhead projector, dimana saya harus menyiapkan lagu-lagu yang akan digunakan di dalam kebaktian. Pada tahun 1991 saya mulai dipercaya sebagai pemimpin pujian. Memasuki tahun 1993 Tuhan mempercayakan saya untuk menggembalakan sebuah jemaat di kota Medan, yaitu GBI Kemah Daud - Medan. Pada awalnya jemaat kami hanya berjumlah 119 jiwa. Melalui gereja inilah saya mulai mengembangkan pelayanan pujian dan penyembahan. Puji Tuhan, saya melihat firman-Nya digenapi, yaitu apabila Tuhan Yesus ditinggikan, maka Ia akan menarik semua orang untuk datang kepada-Nya. Saat ini GBI Kemah Daud Medan telah berganti nama menjadi GBI Medan Plaza dan jemaat kami merupakan salah satu jemaat lokal yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Puluhan ribu jemaat datang untuk beribadah, memuji dan menyembah Tuhan setiap minggunya.

Banyak kesaksian luar biasa yang kami alami di dalam kehidupan berjemaat. Mukjizat dan kesembuhan banyak dialami jemaat kami. Salah satu hal menarik yang saya alami adalah ketika saya yang suka menanam pohon buah-buahan di rumah saya yang lama. Bermacam-macam buah saya tanam dan buah-buahan itu menjadi berkat bagi tetangga- tetangga saya juga. Ketika kami pindah rumah dan rumah dengan pohon buah-buahan itu kami tinggal dan dibeli oleh orang yang memuja berhala-berhala, maka tetangga saya
bilang, "Pak Bambang, koq aneh ya, pohon buah-buahan di bekas rumah bapak tidak berbuah lagi sejak bapak pindah?" Kehadiran orang percaya ternyata berpengaruh pada tanah dan bumi yang kita diami. Tanah itu diberkati oleh karena kita sebagai anak-anak tebusan Tuhan mendatangkan pemulihan atas tanah yang telah dikutuk. Apakah tanah dan bumi yang anda diami menjadi berkat atau masih menghasilkan semak duri dan rumput duri yang merupakan kutuk, gangguan, dan kesulitan?

A Six Year Old Boy Talks of China Bombing 2011


A 6 year old talks of China bombing USA 2011

"And it shall come to pass afterward, [that] I will pour out my spirit upon all flesh; and your sons and your daughters shall prophesy, your old men shall dream dreams, your young men shall see visions" Joel 2:28

One day last spring, Joan and I were having lunch with our friends Chester and Jean Sharpe. Chester told us of a family he knew that had an unusual thing happen. When he begin to relate the event, I asked him to send the testimony to me, which he did about a week later. It was so thrilling that I wanted to share it with everyone possible! With permission, I do so now.

Jordan is a six-year-old boy who lives here in Phoenix, Arizona. I am told that he is shy and retiring-not outgoing (that is the thing that makes this so astounding). To protect him from those who would not have his best interest at heart, I will not use his last name. You may know that this is the true testimony just as his mother heard and wrote it. - April 20, 2008

Jordan and God
We went to visit my grandparents (Jordan’s great grandparents) for lunch with the family. On the way home in the car with my husband, my mother, my son Jordan (6yrs old), and My youngest son (3yrs old). Jordan started talking about God…

*Testimony*
First he said which got all of our attention. This planet will be destroyed. In 2011 some things will start happening, like what I asked. There will be bombs. The armies are going to throw bombs at us, but we have things that can block bombs in the air and throw them back. Who is going to throw bombs at us I asked, China he replied. How does he even know anything about China, he is only 6 we thought? (Is he predicting a war with China in 2011?). There will be lots of volcanoes with fire coming out, floods and those twisting things…what are they called mommy? “ I replied” tornados? Yes, tornados… he said.

At this point we all had goose bumps and were in awe! Then Jordan said those bugs that look like ants, there will be lots of them everywhere but they will grow big and have faces. (Is he talking about the plague of the locust in the bible, but he doesn’t know what locusts are called? If you think about it locust enlarged kind of do look like ants) We will be scared he said, but God says it’s ok and not to be scared. He continued there will be a lion with lots of horns and fire coming out of his mouth. People will disappear and people left will be like huh? (Dismayed). There will be clones too. Clones? I said “ do you even know what clones are Jordan?” Yes he said when there is more than one of the same people. Who will be the people that are clones, I asked? Everyone, he said, after we die and go to heaven, there will be clones of all of us there and you will see and it will walk inside of your body and then there will be only one of you. (I wonder if he is talking about the Holy Spirit?)

Jordan continued saying, after the world is destroyed, the clouds will come down to the earth and God will re-grow everything on earth. God will say “ trees grow” and they will grow. He will just tell just tell everything to grow back again And they listen. Everything will be new again. And God will live with us on earth. What happens to all the bad people asked his grandma? They will go with the monsters, he said. And the other good people that are already dead will open their eyes and they will Wake up, there skin will re-grow and they will get up and go to Jesus.

What will heaven look like we asked? In heaven the streets are made of gold and they are slippery (probably meaning shiny we thought). There are lots of flowers of all colors, lots of yellow flowers. There are lots of butterflies and ladybugs. Grandma asked, are we all going to live in our own houses in Heaven? Yes Jordan answered but all the houses will be connected together. There are no bad people there. Everybody is happy. The animals go to heaven too and they talk. The lions are nice. The goats are nice. The goats will sleep with the lions. Do we eat there, asked grandma…yes there is lot of food, and you can have anything you want. The trees talk too, if you want an apple all you have to do is close your eyes and ask for a apple and an apple will appear on the tree. Anything you want in heaven, you just close your eyes and think of it and you will have it.

We’re going to be invisible but not to each other. The other people who are not in heaven can’t see us. It’s like magic. Who tells you these things Jordan I asked, I just know he replied. Does God talk to you and show you these things his grandma asked, yes he said. He tells me I can make wishes but not for myself…only for other people. Your not suppose to wish for yourself. We all asked one by one are we going to heaven and he replied, if you’re good.

Was God talking through him to testify to us, did he have the Holy Spirit upon him? We do recall one thing later that night. Before eating lunch at my grandparent’s house we all formed a circle and held hands to say a prayer and my husband and me noticed Jordan went limp and fell in front of me on the ground. He then jumped up confused and got back into the circle. Maybe the Holy Ghost touched him then, or maybe that was just Coincidence. But we do believe that God was using my son to let us know that he is real and he is coming back for his people.

Intimate with the Lord



(Foto Ilustrasi: Icha dan Priscilla Natasha Kristadi)

Intim Bersama Tuhan
Isteri saya mengenal Tuhan Yesus di dunia kerja ketika boss-nya membimbing dia dalam doa pengakuan dosa untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Pada waktu itu ia berumur 29 dan tidak tahu apa-apa tentang Bapa. Pada saat itu ia seorang profesional yang masih lajang dan selalu mempunyai banyak teman pria. Ketika Kristus datang ke dalam kehidupannya, Tuhan pelan-pelan mulai mengubah kehidupannya dengan cara-cara yang sangat penting, khususnya dalam persekutuan dan hubungan pribadi. Ketika ia mulai mempelajari Alkitab, ia membaca dalam Matius 7 bahwa apabila ia meminta, maka ia akan menerima (Matius 7:7). Ia berdoa meminta seorang suami dan Tuhan berbicara kepadanya melalui firman-Nya. Ayat berikutnya yang ia pelajari adalah: “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” (Mazmur 46:11)

Beberapa waktu kemudian, Tuhan mulai memperlihatkan kepadanya bahwa Ia ingin menjadi suami-Nya. Setelah dua setengah tahun tanpa seorang pacar, ia mulai berdoa kepada Tuhan agar Ia memperlihatkan kepadanya bagaimana ia dapat mencintai-Nya. Beberapa hari kemudian ia menerima telpon dari seseorang yang menanyakan kepadanya apakah ia mau ikut retret tiga hari. Ia segera mengetahui bahwa Bapa sedang menjawab doanya. Tuhan memperlihatkan kepadanya bagaimana ia dapat memperoleh keintiman bersama Dia seperti yang ia dapatkan dari seorang suami. Ia pikir hal ini aneh. Namun, Bapa mulai menunjukkan kepadanya suatu tingkat keintiman yang ia pikir tidak mungkin.

Pada waktu itu adalah Hari Valentine, dan ia biasanya menganggap bahwa hanya pasangan suami isteri yang mungkin merayakan hari itu. Namun, pada kesempatan ini, gerejanya mengadakan perayaan makan malam Hari Valentine. Ia merasa ingin datang ke perayaan itu sendirian. Sebenarnya, ia mengetahui bahwa Tuhanlah pendampingnya. Karena ia sudah memutuskan untuk tidak berkencan dengan pria manapun agar ia dapat mengembangkan keintiman dengan Tuhan, maka ia tidak menerima kado parfum dari teman prianya. “Tuhan, aku tahu Engkau tidak akan mengundangku ke pesta Hari Valentine ini tanpa memberiku hadiah,” katanya dalam hati. Malam itu diadakan undian, dan Angie, isteri saya sekarang, memenangkan hadiah sebuah keranjang penuh parfum.

Pada kesempatan lain, ia pergi ke pesta perusahaan sendirian. Ia sudah tidak canggung lagi dengan komitmennya untuk tidak berkencan pada saat itu. Ia sering berkelakar, “Kalau bukan karena perlu seseorang untuk memijat punggungku, aku tidak akan pernah memerlukan seorang pria sebagai suami.” Malam itu ia memenangkan sebuah voucher gratis untuk dipijat. Teman-temannya memandang keheranan dan bertanya, “Gimana bisa ya?”

Keintiman dengan Tuhan bukanlah dongeng yang cuma ada di Alkitab. Ia sungguh-sungguh ingin memiliki keintiman dengan anda dan saya. Berdoalah kepada Tuhan untuk menampakkan diri-Nya kepada anda secara pribadi dan dengan cara yang intim. Ia sangat ingin melakukannya. Sumber: Today God Is First. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - apabila anda tidak menghapus keterangan ini ketika anda memforwardnya/mempostingnya di website/blog anda, sangat dihargai)



*******


My wife came to know Jesus in the workplace when her boss led her in the sinner's prayer to receive Christ. She was 29 and had no idea who God was. She was a professional single woman who had always had a boyfriend. When Christ came into her life, He gradually began to change her life in very significant ways-especially in the area of relationships. As she began her first Bible study, she read in Matthew 7 that if she asked, she would receive (see Mt. 7:7). She prayed for a husband and the Lord spoke to her through His Word. The next verse in her study was "Be still, and know that I am God" (Ps. 46:10a).

Over time, the Lord began to show her that He wanted to become her Husband. After two and one-half years without a boyfriend, she asked the Lord to show her how to fall in love with Him. Days later, she received a phone call from someone asking her if she could go on a three-day retreat. She instantly knew God was answering her prayer. He showed her that she could have the same kind of intimacy with Him that she could have with a human husband. She thought this to be strange for the obvious reasons most would think it strange. However, God began to demonstrate to her a level of intimacy that she never thought possible.

It was Valentine's Day, and she would normally leave such occasions to the married couples to celebrate. However, on this occasion, her church was having a Valentine's Day dinner. She felt impressed to go as a single. Actually, she knew the Lord was her escort. Because she had made a decision not to date in order to develop her intimacy with the Lord, she no longer received perfume as gifts. Lord, I know You would not take me to a Valentine's Day banquet without giving me a gift, she thought to herself. That evening, there was a drawing, and Angie won a beautiful gift basket full of fragrances.

On another occasion, she went to a company banquet alone. She was considered by this time rather weird for her commitment not to date. She often joked, "If it weren't for back rubs, I would never have need of a man." (You have to know Angie to appreciate that statement.) That evening, she won a gift certificate for a massage. Her friends looked at her and said, "How do you do that?"

Intimacy with God is not a fairy tale God teases us with in the Bible. He really desires to have intimacy with you and me. Ask God to reveal Himself to you in personal and intimate ways. He desires to do this.

Arti Penghargaan





Seorang anak muda yang hebat sekali secara akademis datang ke sebuah perusahaan besar untuk melamar jabatan manajer. Ia lulus dalam wawancara pertama, dan Direktur perusahaan itu yang melakukan wawancara terakhir, membuat keputusan terakhir.


Direktur itu menemuka bahwa dari Riwayat Hidup anak muda ini, bahwa prestasi akademisnya sangat baik, dari sejak SMA hingga riset pasca sarjana selalu mencetak skor terbaik.


Direktur itu bertanya, ”Apakah kamu mendapatkan beasiswa di sekolah?”
”Tidak,” jawab anak muda.


Direktur bertanya lagi, ”Apakah ayahmu yang membiayai sekolahmu?”


Anak muda itu menjawab, “Ayah saya meninggal ketika saya berumur satu tahun, ibu sayalah yang membiayai sekolah saya.”


Direktur bertanya,”Ibumu kerja dimana?”


Anak muda itu menjawab, ”Ibu saya bekerja sebagai tukang cuci pakaian.”


Direktur itu minta sang anak muda untuk memperlihatkan kedua tangannya. Anak muda itu menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna.


Direktur itu bertanya, ”Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci pakaian sebelumnya?”


”Tidak pernah, ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca lebih banyak buku. Lagipula ibu saya mencuci pakaian lebih cepat dibandingkan saya.”


Direktur itu berkata, ”Saya punya satu permintaan. Kalau kamu pulang, temuilah ibumu dan cucilah kedua tangannya, dan kemudian temui saya esok hari.”


Anak muda itu merasa bahwa ada kemungkinan besar mendapatkan jabatan manajer di perusahaan itu. Ketika ia tiba di rumah, dengan senang hati anak muda itu meminta ibunya mengizinkan dia mencuci kedua tangannya. Ibunya merasa aneh, dengan senang dan perasaan campur aduk, ia memperlihatkan kedua tangannya.


Anak muda itu mencuci kedua tangan ibunya dengan perlahan-lahan. Airmatanya mengalir ketika ia melakukannya. Itulah pertama kali ia memperhatikan bahwa kedua tangan ibunya sudah berkeriput, dan ada banyak luka di tangannya. Luka-luka itu begitu menyakitkan sehingga ibunya bergetar ketika kedua tangannya dicuci dengan air.


Inilah pertama kalinya anak muda itu menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang telah mencuci pakaian setiap hari demi membayar uang sekolahnya. Luka-luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya demi kelulusan anaknya, demi prestasi akademis yang terbaik dan demi masa depannya.


Setelah selesai mencuci kedua tangan ibunya, anak muda itu dengan diam-diam mencuci seluruh sisa pakaian bagi ibunya.


Malam itu, ibu dan anaknya mengobrol sangat lama.


Pagi berikutnya, anak muda itu datang lagi ke kantor Direktur itu.


Sang direktur melihat airmata berlinang di pelupuk mata anak muda itu, dan bertanya, ”Coba ceritakan apa yang kamu sudah lakukan dan pelajari kemarin di rumahmu.”


Anak muda itu menjawab, ”Saya mencuci tangan ibu saya, dan juga mencuci sisa pakaian baginya.”


Direktur bertanya, ”Tolong ceritakan bagaimana perasaanmu?”


Anak muda itu menjawab, ”Nomor 1, sekarang saya tahu apa artinya penghargaan. Tanpa bantuan ibu, saya tidak akan berhasil hari ini. Nomor 2, dengan bekerja sama dan menolong ibu saya, saya sekarang menyadari betapa sulitnya dan betapa sukarnya menyelesaikan sesuatu. Nomor 3, saya dapat menghargai pentingnya dan bernilainya hubungan keluarga.”


Direktur itu berkata, ”Inilah yang saya sedang cari untuk menjadi manajer di sini. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat menghargai pertolongan orang lain, seseorang yang tahu pergumulan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menaruh uang sebagai satu-satunya tujuan hidup. Kamu diterima bekerja di sini.


Beberapa waktu kemudian anak muda ini bekerja dengan sangat keras, dan dihargai anak buahnya. Setiap karyawan bekerja dengan rajin sebagai satu team. Kinerja perusahaan meningkat secara tajam.


Seorang anak yang terlalu dilindungi dan terbiasa diberikan apa saja yang ia mau, akan mengembangkan mental yang suka menuntut haknya dan selalu akan mendahulukan dirinya alias egoistis. Ia akan tidak peduli akan segala jerih payah orangtuanya.


Ketika anak itu besar dan mulai bekerja, ia akan menganggap bahwa setiap orang harus mendengarkannya, dan ketika ia menjadi seorang manajer, ia tidak akan pernah tahu akan pergumulan anak buahnya dan selalu akan menyalahkan orang lain.


Untuk orang-orang seperti ini, yang mungkin baik secara akademis, mungkin mereka akan berhasil untuk sementara waktu, tetapi lambat laun tidak akan merasakan keberhasilan.


Dia akan bersungut-sungut dan penuh kebencian dan berkelahi untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jika kita bertindak sebagai orang tua yang protektif, apakah kita sesungguhnya menunjukkan kasih atau malahan kita sedang menghancurkan anak?


Anda dapat membesarkan anak dalam sebuah rumah besar, memberinya seorang sopir dan mobil untuk pergi kemana-mana, makan makanan enak, belajar main piano, menonton TV dengan layar lebar. Tetapi jika anda sedang memotong rumput, biarkan dia mengalaminya. Sehabis makan, biarlah mereka mencuci piring dan mangkok bersama-sama dengan kakak dan adiknya. Ajarkan mereka untuk pergi dengan bis umum. Itu bukan karena anda tidak punya uang untuk membeli mobil atau menggaji pembantu, tetapi karena anda ingin mengasihi mereka dengan cara yang benar. Anda ingin agar mereka mengerti, walaupun orangtua mereka kaya, suatu hari nanti rambut mereka akan memutih, sama seperti ibu dari anak muda dalam kisah di atas. Hal yang paling penting adalah anak anda belajar menghargai jerih payah dan mengalami pergumulan dan kesulitan hidup dan melatih kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.


Marilah kita bagikan kisah ini kepada banyak orang, mungkin nasib seseorang akan berubah.....
Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com


__._,_.___


Story of Appreciation


One young academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company.


He passed the first interview, the director did the last interview, made the last decision.


The director discovered from the CV that the youth's academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research, never had a year when he did not score.


The director asked,"Did you obtain any scholarships in school?"
The youth answered "none".


The director asked, "Was it your father who paid for your school fees?"


The youth answered, "My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.


The director asked, "Where did your mother work?"
The youth answered, "My mother worked as clothes cleaner.


The director requested the youth to show his hands.
The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.


The director asked, "Have you ever helped your mother wash the clothes before?"


The youth answered, "Never, my mother always wanted me to study and read more books.
Furthermore, my mother can wash clothes faster than me.


The director said, "I have a request. When you go back today, go and clean your mother's hands, and then see me tomorrow morning.


The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to the kid.


The youth cleaned his mother's hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother's hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.


This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother's hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future.


After finishing the cleaning of his mother's hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.


That night, mother and son talked for a very long time.


Next morning, the youth went to the director's office.


The Director noticed the tears in the youth's eyes, asked, "Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?"


The youth answered, "I cleaned my mother's hand, and also finished cleaning all the remaining clothes'


The Director asked, "Please tell me your feelings."


The youth said, “Number 1, I know now what is appreciation. Without my mother, there would not the successful me today.


Number 2,
by working together and helping my mother, only I now realize how difficult and tough it is to get something done.

Number 3,
I have come to appreciate the importance and value of family relationship.”


The director said,
“This is what I am looking for to be my manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. You are hired.

Later on, this young person worked very hard, and received the respect of his subordinates. Every employee worked diligently and as a team. The company's performance improved tremendously.


A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop "entitlement mentality" and would always put himself first. He would be ignorant of his parent's efforts.


When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others.


For this kind of people, who may be good academically, may be successful for a while, but eventually would not feel sense of achievement.


He will grumble and be full of hatred and fight for more. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?


You can let your kid live in a big house, give him a driver & car for going around, eat a good meal, learn piano, watch a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. Tell them to travel in public bus. It is not because you do not have money for car or to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow grey, same as the mother of that young person. The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.


You would have forwarded many mails to many and many of them would have back mailed you too...but try and forward this story to as many as possible...this may change somebody's fate...
Blogger Widgets