Tuhan itu Nyata
Kesaksian ini tentang Ibu Lidya Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono beserta keluarga besarnya yang diambil dari Buku "Tuhan itu Nyata", terbitan Bethlehem, 2009. Kesaksiannya bagus, sayang bahasanya agak blepotan, karena buku ini ditulis dari bahasa lisan tanpa diedit dengan baik oleh penerbitnya. Dalam kesaksian ini saya edit seperlunya agar enak dibaca.
Nama saya Lidya Dewi Yana, lahir tahun 1948, mempunyai suami, tiga anak dan menantu, delapan cucu, satu menantu cucu, dan satu cicit. Saya dilahirkan di sebuah keluarga kaya. Keluarga besar ayah saya semuanya adalah eksportir karet. Saya tumbuh sebagai anak manja yang sangat disayang. Saya adalah orang yang mau menang sendiri, tidak pernah mau mengalah, tidak mau mengerti orang lain. Saya selalu ingin mendapatkan apa yang saya inginkan. Di dalam keluarga saya ayah suka menikah. Dia mempunyai beberapa wanita simpanan. Ibu saya suka main kartu mahyong. Saya tumbuh di tengah keluarga yang suka bertengkar.
Ketika saya lulus SMA saya menikah dengan seorang pemuda tampan. Gaya kehidupan mertua saya sangat kuno, sedangkan kehidupan saya modern dan bebas. Karena dua latar belakang yang berbeda ini, timbullah pertengkaran hebat antara saya dengan mertua. Di mata mereka saya adalah menantu yang kurang ajar, sehingga pada puncaknya mertua mengancam suami saya: memilih saya atau memilih orangtua suami. Saya membujuk suami saya agar memilih saya. Saya katakan, jika dia memilih saya, saya akan pergi kemanapun dia ingin pergi. Apapun akan saya lakukan demi suami. Akhirnya suami memilih berpisah dari orangtuanya. Pada saat itu saya memendam kebencian yang mendalam dan menyimpan kemarahan yang besar terhadap mertua saya.
Dalam perjalanan hidup dengan suami, saya bertumbuh menjadi seseorang yang hanya punya satu tujuan, yaitu mencari uang sebanyak-banyaknya. Saya ingin menunjukkan kepada mertua saya bahwa saya adalah menantu yang pandai mencari uang dan mempunyai uang banyak. Bisnis saya memang berhasil. Saya sering bepergian ke Singapura, Hongkong, atau Tokyo. Namun dalam rumah tangga saya, yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran. Anak-anak saya bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang kacau karena saya jarang ada di rumah. Mereka bertumbuh tanpa kasih, kepedulian, dan perhatian orang tua mereka. Sebagai mama, saya bukanlah mama yang baik tetapi mama yang egoistis yang selalu mencari uang. Saya masih ingat, ketika anak-anak datang untuk menceritakan tentang sekolah mereka atau apapun juga, maka saya selalu menolak dan menyuruh mereka langsung datang ke kasir untuk mendapatkan uang. Saya tidak pernah mengantar anak ke sekolah. Saya tidak pernah tahu apa kebutuhan mereka. Lebih parahnya, ketika anak saya sakit, saya tak ada waktu untuk menjaga atau merawat mereka karena waktu itu saya sedang ada di luar negeri. Jangan heran apabila anak-anak lelaki saya menjadi nakal, terjerat narkoba, masuk dalam kehidupan seksual yang bebas. Mereka hancur-hancuran dan berantakan sekali karena kekurangan cinta kasih orang tua mereka.
Terhadap suami saya adalah istri yang mau menang sendiri. Saya merasa lebih pandai dari pada suami saya. Saya merasa suami saya ada di bawah saya. Setiap proyek bisnis, saya dapatkan sendiri tanpa pertolongan suami. Saya merasa menjadi orang yang super dan hebat. Saat itu saya suka memelihara kuku tangan yang panjang, dengan tujuan jika sedang marah dengan suami saya dapat mencakarnya dengan kuku saya. Waktu itu orang melihat saya sebagai figur yang eksklusif, kaya, cantik, pandai, serba bisa, dan berpenampilan elit. Saya tidak mau sembarangan bergaul dengan orang yang tidak selevel dengan saya. Saya mengukur orang dari kedudukan, pangkat dan kekayaan. Kalau seseorang tidak menguntungkan saya, maka saya menganggap bergaul dengan mereka hanya membuang-buang waktu saja. Saya pandai bergaul dengan para pejabat di pemerintahan, kepolisian, kejaksaan, bankir dan lain-lain. Jika ada orang mempunyai masalah dan ingin menyelesaikan masalah bisnis atau perkara hukum, mereka biasanya mencari saya. Asal pembayarannya cocok, saya akan bantu mereka melobi kepada para pejabat yang saya kenal baik. Saya biasa mengenakan baju, sepatu, dan tas mahal. Saya memakai perhiasan emas dan berlian, serta mengendarai mobil mewah. Waktu itu saya bangga sekali karena rasanya di Banjarmasin tidak ada orang yang tidak kenal siapa saya. Saya suka hura-hura, pesta dan dansa di nite club. Saya tidak sadar bahwa semua itu merupakan kehidupan yang semu. Suatu kehidupan dimana semua itu tidak ada artinya.
Sementara itu, hobby suami saya adalah berjudi di kasino. Biasanya saya mau menemani dia berjudi asalkan dia mau menemani saya dugem di klub malam. Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang hancur-hancuran di dalam, nampak terlihat hebat di luar, bagaimana Tuhan mengubah kehidupan kami, sehingga saat ini saya dan suami menjadi pendeta, ketiga anak saya semuanya menjadi pendeta, menantu saya juga pendeta, suaminya cucu saya juga pendeta. Ada dua belas orang dalam keluarga besar kami yang menjadi pendeta atau melayani Tuhan di gereja. Luar biasa ya, Tuhan itu? Bagaimana kisah pertobatan kami, nantikan kisah berikutnya.
Kehidupan seperti ini terjadi tahun demi tahun sampai anak-anak saya dewasa. Suatu saat Tuhan memanggil saya dengan cara-Nya yang ajaib, yang tidak pernah saya bayangkan atau harapkan. Itu berawal dari tahun 1992 ketika saya sedang bertengkar hebat dengan suami saya dan tidak ingin pulang ke rumah. Pada waktu itu saya mengajak sepupu suami saya yang juga adalah kasir saya yang selalu mendampingi saya. Saya ajak dia pergi kemana saja, pokoknya asal tidak pulang. Dalam perjalanan tiba-tiba saya teringat ada seorang teman yang memberikan undangan kepada saya untuk melihat Ade Manuhutu.
Saya pikir, daripada tidak ada tujuan saya mengajak kasir saya ke sana. Kami ambil undangan itu dan coba "menonton" Ade Manuhutu. Saat itu saya belum mengerti apa itu KKR. Saya tidak mengerti cara atau acara KKR. Setelah sampai saya bingung. Kok yang menyanyi tidak seorang saja? Semua penonton yang duduk di kursi juga pada menyanyi, mengikuti tulisan di dinding. Ketika semua orang diajak menyanyi, saya juga ikut menyanyi. Pada waktu itu MC mengajak hadirin bangkit berdiri dan menyanyikan lagu "Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu? . . ." Ketika saya berdiri dan menyanyikan lagu "Kasih Setia-Mu", tiba-tiba airmata saya mengalir, padahal saya adalah orang yang pantang menangis, apalagi di depan begitu banyak orang seperti ini. Saya tidak bisa menahan airmata yang tiba-tiba mengalir. Dan tiba-tiba ada satu pertanyaan di hati ini, "Siapakah aku ini?" Waktu saya bertanya "siapakah aku ini?", di depan saya seolah-olah terpampang sebuah film yang memperlihatkan siapa diri saya yang sebenarnya. Di film itu terlihat karakter saya yang munafik, pendusta, gila uang, cinta diri sendiri, tidak peduli terhadap suami dan anak-anak, merasa diri saya hebat, dan lain-lain.
Saya malu melihat cermin diri saya sendiri. Film itu juga memperlihatkan pertengkaran saya dengan mertua dan suami, dan juga ketika saya berkata dusta, bersikap munafik, serta ketika saya mempunyai niat yang tidak baik. Saya juga melihat hubungan saya dengan anak-anak saya. Saya tidak pernah memeluk, membelai dan memberikan kehangatan sebagai seorang ibu. Saya hanya bisa memberi uang dan uang dan uang. Tidak ada sedikitpun keinginan saya untuk berkorban demi mereka. Akhirnya saya sadar siapa diri saya ini. Saya adalah orang yang tidak baik dan egoistis. Saya adalah orang yang tidak bisa mengasihi orang lain. Saya adalah orang yang hanya mencintai diri sendiri, mau menang sendiri, dan sangat sombong. Itu yang membuat saya menangis.
Ketika saya menyanyikan lagu pujian itu sambil menangis, tiba-tiba saya berdoa dan berkata, "Tuhan, koq aku ini jelek ya, Tuhan? Koq aku ini buruk? Aku mau Tuhan tolong aku. Jangan sampai aku buruk seterusnya. Aku mau Tuhan tolong aku agar aku keluar dari keburukanku. Koq aku tak tahu apa itu kasih? Mengapa aku tak dapat mengasihi orang lain? Jangankan orang lain, mengasihi suami dan anak-anakku saja aku tak bisa? Koq terlalu banyak kepalsuan dan kepura-puraan yang ada dalam kehidupanku?"
Saya mengalirkan airmata karena malu terhadap diri sendiri yang suka membanggakan diri. Setelah pujian itu selesai, saya tak pernah melupakan peristiwa itu seumur hidup saya. Kemudian Ade Manuhutu berkhotbah. Saya tidak pernah mengerti sebelumnya apa itu khotbah. Ade Manuhutu bercerita bagaimana istrinya dengan sabar tetap mengasihi dia ketika dia pulang dengan mabuk sambil membawa perempuan lain. Istrinya menunggu Ade, membukakan pintu, berdoa dengan sabar. Ade bercerita bagaimana dia memukuli istrinya, namun istrinya tidak pernah melawan. Kemudian Ade berkhotbah dari Kolose 3 tentang firman Tuhan agar para istri tunduk kepada suami mereka dan agar suami-suami mengasihi istri mereka. Ketika Ade menceritakan tentang istrinya, saya semakin malu dibuatnya karena saya adalah seorang istri yang tidak berfungsi dengan baik. Saya adalah istri yang tidak pernah menghargai suami; istri yang selalu marah-marah terhadap suami; istri yang membanting pintu di hadapan suami; istri yang suka mencakar suami; istri yang mau menang sendiri; istri yang mau bertindak semaunya. Saya sungguh malu pada saat itu.
Setelah mengalami jamahan Tuhan pada KKR itu, saya terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Saya mulai mengikuti kebaktian di gereja, saya mulai membaca Alkitab yang diberikan oleh salah seorang pengerja gereja. Saya bertobat dari segala dosa-dosa saya, saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Saya dibaptis di gereja. Dan pertubuhan rohani saya terus berjalan sesuai dengan kasih karunia Tuhan. Bukan itu saja, setelah saya berdoa puasa selama SEPULUH tahun, suami saya bertobat. Saya berpuasa setiap hari selama sepuluh tahun. Setiap malam dari jam 11 sampai jam 3 saya berdoa dan memuji serta menyembah Tuhan diiringi lagu dari kaset, yaitu lagu "Kasih Dari Sorga" gubahan Ibu Dora Kansil. Kisah doa puasa ini panjang sekali. Dengan doa puasa ini pada mulanya suami saya bukan makin baik, tetapi makin jahat kepada saya, sampai akhirnya pada suatu saat saya hampir berhenti doa puasa. Namun saya ditegur Tuhan melalui seorang pemuda yang tidak saya kenal. Pemuda ini berkata, "Jika Ibu berani berhenti berdoa puasa, maka murka Tuhan terbit atas Ibu dan Ibu akan melihat bahwa semua keturunan Ibu akan hancur. Kedua, Ibu mempunyai 22 ruko, semuanya akan ludes dihanguskan api sehingga rata dengan tanah." Karena teguran dari pemuda yang sebenarnya semula tidak berani berbicara memperingatkan saya, maka saya taat dan tunduk kepada perintah Tuhan untuk berdoa puasa lagi. Baca saja bukunya karena masih panjang ceritanya.
Sumber: Buku "Tuhan itu Nyata", terbitan PT. Bethlehem Publisher, 2009. Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam buku tersebut. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com oleh Hadi Kristadi pada tanggal 1 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar