Rabu, 24 Agustus 2016

Disiksa Ibu Kandung




Ini kisah tentang Dave Pelzer. 5 Maret 1973, Daly City, California. Aku terlambat. Aku harus menyelesaikan pekerjaan mencuci peralatan makan secepatnya, kalau tidak, aku tidak dapat jatah sarapan, dan karena semalam aku tidak makan, jadi sekarang aku harus makan sesuatu. Ibu mondar-mandir sambil berteriak-teriak kepada saudara-saudara lelakiku. Aku bisa mendengar langkah-langkahnya yang berat menuju dapur. Cepat-cepat aku membilas lagi. Tapi terlambat.

Ibu menarikku dengan kasar. Plaaakk! Ibu memukul mukaku, dan aku terjatuh. Aku tahu, lebih baik aku jatuh daripada tetap berdiri dan dipukul lagi. Kalau aku tetap berdiri, Ibu akan menganggap itu sebagai sikap membantah, dan itu artinya beberapa pukulan lagi akan mendarat di tubuhku, atau, yang paling kutakutkan, aku tidak diberi sisa makanan bekas dari piring saudara-saudaraku. 

Aku menunjukkan sikap ketakutan, sambil terus-menerus mengangguk, seakan memahami arti ancaman-ancaman yang keluar dari mulutnya. Satu pukulan lagi menyentakkan kepalaku hingga membentur pinggiran dinding. Aku meneteskan air mata sebagai tanda tak tahan menerima siksaan Ibu. Lalu ia ke luar dari dapur, tampaknya ia puas akan perlakuannya terhadapku. Aku menghitung langkah-langkahnya untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah menjauh, dan akupun menarik nafas lega. Ibu boleh memukuliku sesuka hatinya, tapi aku tak membiarkannya mengalahkan tekadku untuk bertahan hidup. 

Karena terlambat datang di sekolah, aku harus melapor ke ruang tata usaha. Ibu sekretaris di ruang itu menyambutku dengan senyuman. Tak lama kemudian Pembimbing Sekolah muncul dan mengajakku ke ruang kerjanya, lalu kami melakukan hal-hal yang sudah biasa kami lakukan. Pertama, ia memeriksa muka dan lenganku. 
“Bagian atas matamu kenapa?”
“Oh, itu terbentur pintu, tak sengaja.” kataku, menirukan kata-kata yang diajarkan ibuku. 

Pembimbing Sekolah hanya tersenyum. Ia mengambil catatannya. Ia membalik-balik catatannya, lalu menujukkan padaku tulisan di catatan itu, “Coba lihat ini,” katanya, “kamu mengatakan hal yang sama hari Senin kemarin. Kau ingat?” Cepat-cepat aku ganti dalihku. “Oh, aku sedang main bisbol, lalu pemukulnya mengenai aku. Tidak sengaja koq.” Tetapi Pembimbing Sekolah lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia sudah tidak mempan dibohongi dalih-dalihku yang selalu ingin melindungi Ibu. Dengan caranya, ia selalu berhasil membuatku mengatakan kejadian yang sebenarnya. Pada akhirnya aku selalu mengaku sambil terisak. 

Prosedur itu diteruskan seperti biasanya. Pembimbing Sekolah meminta aku membuka baju. Ini sudah kami lakukan sejak dua tahun lalu, jadi sekarang aku menurut saja. Kemejaku penuh lubang, lebih banyak lubangnya dari lubang di keju Swiss. Selama dua tahun ini itulah satu-satunya baju yang dapat kupakai. Ibu menyuruhku memakai baju itu setiap hari. Begitulah caranya ia menghinaku. Celana yang kupakai juga sama jeleknya. Sepatuku berlubang di bagian ujung depan, sampai-sampai aku dapat mengeluarkan dan menggerak-gerakkan ujung jempolku keluar melalui salah satu lubang-lubang itu. 

Lalu aku berdiri hanya mengenakan celana dalam, sementara Pembimbing Sekolah mencatat luka dan memar di sekujur tubuhku pada buku catatannya. Ia teliti betul. Selanjutnya, ia membuka mulutku untuk memeriksa gigi-gigiku, yang patah atau copot akibat dibenturkan Ibu ke pinggiran bak pencuci piring. Kemudian ia memeriksa sekali lagi seluruh tubuhku, lalu berhenti di luka sobek yang sudah lama di bagian perutku. “Yang itu,” katanya dengan nada suara yang agak tertahan, “luka akibat tusukan ibumu, ‘kan?” “Ya, bu.” jawabku. 

Pembimbing itu menangkap kekhawatiran dan ketakutan di mataku akibat pengakuanku. Ia segera meletakkan buku catatannya, lalu memelukku. “Aduh, enaknya,” kataku dalam hati, “Ibu Pembimbing ini begitu hangat.” Aku tak mau melepaskannya. Aku mau selamanya dipeluk begini. Kupejamkan mataku kuat-kuat. Rasanya begitu aman, tak terjadi apa-apa. Ia mengusap kepalaku. Aku tersentak oleh rasa sakit pada luka bengkak akibat pukulan ibuku tadi pagi. Pembimbing itu melepaskan pelukannya dan keluar ruangan. Cepat-cepat aku mengenakan kembali pakaianku. 

Begitu masuk kelas, semua murid menutup hidung dan serentak mengeluarkan suara seperti mendesah. Guru pengganti yang mengajar pagi itu mengibaskan tangan di depan wajahnya. Ia belum terbiasa dengan bau badanku. Belum lagi aku duduk di tempat dudukku, aku dipanggil kembali ke ruang kepala sekolah. Semua murid di kelas itu berseru, “Huuuuuuuu.” ke arahku, tanda penolakan oleh sesama murid kelas lima SD. 

Begitu sampai ke ruang kepala sekolah, sejenak aku heran apa yang kulihat. Di ruangan itu duduk di sekeliling sebuah meja, beberapa orang guru, Mr. Hansen sang kepala sekolah dan seorang polisi. Rasanya kakiku tak mau digerakkan. Aku bingung, karena aku tak mencuri bekal makanan siapapun hari ini. Semua orang di ruangan itu tampak tersenyum menyambutku. Sama sekali aku tak tahu bahwa mereka akan mempertaruhkan pekerjaan mereka demi menyelamatkan diriku dari kegilaan Ibuku. 

Pak Polisi di ruangan itu memberitahuku mengapa Mr. Hansen memanggilnya. Rasanya badanku mengerut di kursi yang kududuki. Pak Polisi meminta aku menceritakan tentang Ibu. Aku menggeleng, tak mau. Sudah terlalu banyak orang tahu rahasia tentang Ibu. Ada suara lembut yang membuatku nyaman. Rasanya itu suara Miss Moss, guru matematika. Ia menghiburku. “Tak apa-apa,” katanya. Aku menarik nafas panjang. Sambil meremas-remas jari tanganku sendiri, dengan agak segan kuceritakan apa saja yang pernah terjadi antara aku dan Ibu. Pembimbing Sekolah menyuruhku berdiri, lalu memperlihatkan luka-luka di sekujur tubuhku. Cepat-cepat kutambahkan bahwa itu tak disengaja. Ibu tak sengaja menusukku. Aku menangis. Kukeluarkan apa yang selama ini kupendam, bahwa Ibu menghukumku karena aku nakal. Setelah bertahun-tahun tersiksa begini, aku tahu tak seorangpun bisa melakukan sesuatu yang dapat mengubah keadaanku. Tapi ternyata aku keliru kali ini. 


Mulanya sikap Ibu sangat baik kepada kami semua, aku, Ron, dan Stan. Ia pernah menjadi Ibu ideal bagi kami. Kami masih ingat saat-saat manis berpiknik bersama ayah dan ibu, dan saudara-saudaraku. Namun pada suatu saat hubunganku dengan Ibu berubah drastis ketika Ibu banyak menghabiskan waktunya seharian tiduran di kursi menonton televisi sambil menikmati minuman kerasnya. 

Aku mulanya dihukum di pojok kamar, tidak boleh menonton tv, tidak boleh bermain, tidak boleh kemana-mana sampai diizinkan ibu. Kemudian Ibu memutuskan bahwa hukuman pojok kamar tidak mempan, lalu ia memperkenalkan “hukuman cermin”. Wajahku ditempelkan dan ditekan pada kaca cermin. Lalu wajahku yang basah oleh airmata digesek-gesekannya pada permukaan cermin yang licin dan memantulkan wajahku. Kemudian Ibu memaksaku untuk berkata, “Aku anak nakal! Aku anak nakal!” Demikian berulang-ulang. Kemudian aku dipaksa berdiri, disuruh melihat ke cermin, sementara Ibu menonton tv. 

Ketika acara tv menayangkan iklan, Ibu akan bergegas menuju kamar untuk memeriksa apakah aku masih memandang ke arah cermin, lalu ia akan berkata kepadaku betapa aku adalah anak yang memuakkan. Sekali-sekali saudara-saudaraku masuk ke kamar saat aku mendapat “hukuman cermin”, lalu mereka memandang ke arahku, sambil mengangkat bahu sedikit, lalu meneruskan permainan mereka, seolah-olah aku tidak ada di situ. Mulanya sikap mereka itu membuat aku tersinggung, namun aku segera paham bahwa itu mereka lakukan semata-mata demi menyelamatkan diri mereka sendiri. 

Suatu saat Ibu mendatangiku dengan kedua tangannya terentang dan terangkat. Mata Ibu berkilat dan merah, nafasnya bau alkohol. Aku menutup mataku begitu pukulan Ibu bertubi-tubi menghantamku dari kiri dan kanan. Kucoba menggunakan tangan untuk melindungi wajahku, tapi Ibu dengan mudah menyingkirkannya. Pukulannya kurasakan seakan tak akan pernah berhenti. Akhirnya kulingkarkan lengan kiriku untuk menutupi wajahku. Saat Ibu berusaha menarik lenganku, ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang, sementara tangannya masih mencengkeram lengan kiriku. Ibu berusaha agar tidak jatuh sehingga lengan kiriku tertarik keras. Saat itulah kudengar suara gemeretak, lalu aku merasa sangat kesakitan pada bahu dan lenganku. Ibu tampak tertegun, dan begitu saja melepaskan cengkeramannya dari lengan kiriku. Ia pergi begitu saja. Perlahan-lahan kucoba menggerakkan lengan kiriku. Rasa sakitnya tak tertahankan. Lengan kiriku tak dapat bergerak sama sekali. Ketika keadaanku semakin parah Ibu membawaku ke Rumah Sakit sambil membual bahwa aku terjatuh dari tempat tidur. Dokter yang merawatku sama sekali tidak percaya bahwa cedera pada lenganku diakibatkan karena terjatuh. 

Ada saja gara-gara yang Ibu timpakan kepadaku. Ia menuduhku bermain-main di rumput di sekolah. Menurut imajinasinya, aku telah bersalah melanggar peraturan yang dibuatnya. Kemudian Ibu menyalakan api di kompor dan akan memanggangku di atasnya. “Kau membuat hidupku seperti di neraka!” katanya penuh cemooh. “Kini saatnya kutunjukkan padamu apa itu neraka.” Dengan mencengkeram kuat lenganku, Ibu meletakkannya di atas api yang berwarna biru jingga. Akibat panasnya api, aku merasa lenganku matang. Tercium olehku bau bulu-bulu lenganku yang terbakar, kulitku yang terbakar. Aku menjerit-jerit kesakitan. Sehebat apapun perlawanan yang kuberikan, aku tak mampu melepaskan lenganku dari cengkeraman Ibu. 

Akhirnya aku jatuh ke lantai, sambil meniupkan udara dingin ke lenganku yang terbakar. “Sayang sekali, ayahmu yang pemabuk itu tidak di rumah sehingga ia tidak bisa menyelamatkanmu!” desisnya. Kemudian Ibu menyuruhku naik ke atas kompor dan berbaring di atas api, sehingga ia bisa menyaksikan tubuhku terbakar. Aku menolak, sambil menangis mengiba-iba. Aku begitu ketakutan sampai-sampai kuhentak-hentakkan kakiku ke lantai sebagai tanda protes. Tetapi Ibu tetap memaksaku. Kutatap api kompor, sambil berdoa agar api itu padam karena kehabisan gas. Aku tahu bahwa aku harus mengulur-ulur waktu sampai seseorang datang ke rumah, sampai kakakku Ron pulang. Ibu tak akan gila ketika ada orang lain datang ke rumah. Aku mulai bermanis-manis, bertanya ini itu kepada Ibu. Kelakuanku membuat Ibu bertambah ganas, ia mulai menghujani pukulan ke kepala dan dadaku. Semakin membabi buta Ibu memukuliku, semakin aku sadar bahwa aku menang. Apapun boleh Ibu lakukan terhadapku, asal aku jangan dibakar di atas kompor. Akhirnya kudengar pintu depan dibuka seseorang. Ibu terperangah. Kesempatan itu aku gunakan untuk lari ke basement yang lembab dan gelap.


“Ayah, Ibu telah menusuk dadaku dengan pisau…” kataku sambil menahan sakit akibat banyaknya darah yang keluar. Aku telah berjalan bersusah payah dari ruang dapur menuju Ayah, pahlawanku. Di kursi panjang di ruangan itu duduklah Ayah sambil membaca koran. Aku berharap Ayah akan menegur Ibu, lalu membawaku ke Rumah Sakit. Aku berdiri di depan Ayah, menunggunya menurunkan koran dan melihatku. Ayah bahkan tidak mengangkat alis matanya, apalagi menoleh. “Kenapa?” tanyanya. “Dia bilang, kalau aku tidak menyelesaikan tugas mencuci perkakas dapur tepat 20 menit, dia…dia akan membunuhku.” 

Waktu seakan berhenti. Dari balik koran aku bisa mendengar nafas Ayah yang jadi berat. Ia menelan ludah, lalu bekata, “Yah, kau ah,…. Kau lebih baik kembali ke dapur dan menyelesaikan tugasmu mencuci piring.” Kujulurkan kepalaku ke depan, seolah-olah ingin lebih jelas mendengar ucapannya. Aku tak percaya akan apa yang baru saja kudengar. 

Aku kecewa berat. Ayah bahkan tidak melihat ke arahku. Menurutku, paling tidak ia bisa menurunkan korannya untuk melihat sorot mataku, maka ia pasti tahu. Ia pasti akan bisa merasakan sakitku, merasakan betapa aku membutuhkan pertolongannya. Tetapi seperti biasanya, aku tahu Ibu mengendalikan Ayah dan mengendalikan semua persoalan di keluarga ini. 

Aku meninggalkan ruangan itu. Rasa hormatku terhadap Ayah hancur sudah. Gambaran Ayah sebagai penyelamat ternyata palsu. Rasa marahku terhadap Ayah lebih besar daripada terhadap Ibu. Aku ingin bisa terbang, tetapi rasa sakit yang kurasakan mengembalikan aku pada kenyataan.

Selama aku disiksa, aku pernah dicekoki amonia. Aku dipaksa menelan sabun cair pencuci piring dan clorox (cairan penghancur kotoran manusia). Aku dipaksa makan kotoran adikku dan ketika aku menolak, Ibu melumuri wajahku dengan popok adikku yang penuh kotoran yang sangat bau, sehingga wajahku belepotan kotoran menjijikkan itu. Aku juga harus mengais-ngais makanan dari tempat sampah, kalau beruntung. Aku harus makan sisa makanan anjing. Karena kelaparan aku harus mencuri makanan dari sana sini. Aku mencuri makanan dari bekal teman-temanku. Dan ketika aku dilaporkan kepada Ibuku, aku akan menerima hukuman lebih berat. Suatu saat aku mencuri sosis dari toko karena kelaparan. Ketika pulang Ibu memaksaku memuntahkan isi perutku. Ia menemukan sosis itu dan menunjukkannya kepada Ayah. Di depan Ayah, aku dipaksa memakan muntahan sosis yang anjingpun tidak suka lagi karena muntahan itu bau sekali. Aku dipaksa memakannya di depan Ayah yang diam saja. 

Pada saat-saat seperti ini aku seringkali berpikir bahwa Tuhan yang adil itu tidak ada. Mengapa Ia membiarkanku seperti ini? Apakah Tuhan itu ada? 

Akhirnya Pak Polisi membuat berita acara tentang penyiksaan yang dialamiku. Ia menelpon Ibu, “Mrs. Pelzer, saya Opsir Smith dari Kantor Polisi Daly Smith. Anak anda, David, tidak akan pulang ke rumah hari ini. Ia berada dalam perlindungan San Mateo Juvenille Department. Kalau ada yang ingin Anda tanyakan, silakan hubungi departemen tersebut.” Beberapa waktu kemudian Pak Polisi mengatakan kepadaku, “Kamu bebas sekarang. Bebas dari siksaan Ibumu. Ia tidak akan pernah dapat menyakitimu lagi.”

Sejak itu David menghirup kebebasan. Ia akhirnya menyadari bahwa Tuhan yang baik selalu melindungi. Diam-diam Tuhan memberinya kekuatan dan keberanian pada saat ia paling membutuhkan. David kemudian mendaftarkan diri ke US Air Force. Ia pernah ambil bagian dalam Operasi Desert Storm. Ia mendapatkan penghargaan dari dua Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan dan George Bush atas jasa-jasanya. Ia mendapatkan penghargaan sebagai salah satu dari Ten Outstanding Young Americans. Ia banyak membela para anak dan remaja yang mengalami “Child Abuse”. 
Kisah selengkapnya dapat anda baca dari buku “A Child Called It”, “The Lost Boy” dan “A Man Named Dave” terbitan PT. Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Widgets