Rabu, 30 November 2016

ROSE SIGGINS – JAGO MEKANIK DAN IBU TANPA KAKI YANG HANDAL





Meski fisik terbatas, tidak mempunyai kaki, akan tetapi Rosemary Siggins pantang menjadi beban. Sebaliknya, dia justru bisamenjadi tulang punggung bagi ayah dan adiknya. Dia juga sosok ibu dan istri yang luar biasa. Jago mekanik, seperti apa kisahnya ?

Rose Siggins, Jago Mekanik dan Ibu tanpa kaki yang handal. Shallom, begini kisahnya :

Rosemary Siggins (39) bukanlah sembarang wanita. Rose, panggilan kesayangan warga Pueblo, Colorado, AS ini adalah wanita luar biasa. Terlahir dengan kelainan genetika langka yang disebut Sacral Agenesis, kedua kaki Rose diamputasi di usia dua tahun. Membiarkan kedua kaki itu menyatu dengan tubuh Rose, suatu hal yang tak mungkin. Bagian bawah dari tulang belakangnya tidak berkembang secara normal. Lama kelamaan kedua kaki Rose membusuk hingga harus diamputasi.

Karena itu sejak usia dua tahun badan Rose tinggal separuh. Untuk berjalan dia belajar menggunakan papan seluncur (skateboard) atau kedua tangannya. Mengapa bukan kursi roda? Sebab Rose tak ingin terlihat menderita.

Alih-alih mengeluh, Rose malah pantang dikasihani. Dari kecil Rose membiasakan dirinya untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Bila tidak sangat perlu, dia tidak akan meminta bantuan. ”Saya pantang menjadi beban buat orang lain meskipun secara kondisi saya memang beda dari orang normal,” tutur perempuan yang hanya memiliki tinggi 80 cm ini.

Rose menjalani hidup layaknya orang normal, termasuk dalam hal sekolah. Dia belajar di sekolah umum meski itu dijalaninya dengan tidak mudah.

Sebagai anak yang berfisik beda, Rose harus terbiasa menghadapi pandangan aneh teman-temannya. Bahkan menjadi bahan ledekan. Bagi Rose semua itu tidak masalah, sebab Rose merasa sangat nyaman dengan dirinya.


Remaja Minder

Sayangnya, rasa percaya diri itu tidak berlangsung lama. Menjelang remaja, ketika usianya menginjak 15 tahun kekhawatiran mulai melanda.

Rose yang semula sangat percaya diri dan tidak peduli dengan pendapat orang lain, mendadak sering gelisah karena merasa berbeda. Tidak hanya dari segi penampilan, teman-teman seumurannya pun sudah mulai memiliki pacar dan pergi berkencan.

Hal ini membuat Rose makin minder. Dia mendadak jadi takut selamanya dia akan sendirian karena tidak ada lelaki yang akan tertarik padanya.

”Saat itu saya merasa sangat sedih. Saat teman-teman saya sudah mulai berkencan, saya malah hanya menonton tv di rumah,” kenangnya.

Rose terus-menerus dilanda kegalauan. Namun dia tak ingin meratapi nasib. Dia mencoba mencari kesibukan untuk mengalihkan perhatian. Awalnya Rose membantu ayahnya yang suka mengutak-atik mesin mobil. Kondisi tubuh memang mempersulit geraknya. Namun bukan Rose bila langsung berputus asa.

”Awalnya ayah saya melarang untuk ikut membantu. Dia khawatir saya terluka. Tapi karena saya memaksa akhirnya ayah memperbolehkan. Sekarang saya bahkan lebih jago dari ia,” tuturnya.

Lepas dari sekolah menengah, Rose tidak melanjutkan sekolah. Ia memilih untuk bekerja. Saat itu ayahnya sudah mulai sakit-sakitan.

Semula dia mencoba melamar pekerjaan di kantor. Namun kekurangan fisik pada dirinya membuat semua perusahaan yang didatangi tidak menerimanya.

Rose kemudian banting setir menjadi mekanik. Dengan berbekal sedikit keahlian yang didapatkan dari ayahnya, Rose mencoba untuk membuat sebuah bengkel mobil di garasi rumahnya. Awalnya, banyak orang yang meremehkannya. Namun, berkat semangat dan ketekunannya, akhirnya bengkel yang lima bulan lebih tidak berpelanggan itu ramai.


Cinta Sejati

Sibuk sebagai mekanik membuatnya lupa dengan urusan percintaan. Fokus utama Rose malah beralih kepada pekerjaan. Ia bahkan tak lagi peduli apakah ia nanti akan menikah atau tidak.
Siapa menduga, kondisinya yang cacat dan perjuangannya untuk mandiri ternyata menarik perhatian seorang pemuda normal dan berparas tampan. Pemuda itu bernama David Siggins yang juga pemilik toko suku cadang yang biasa didatangi Rose.

Dari simpati karena melihat kegigihan Rose, rasa itu berubah menjadi cinta. Tetapi Rose tidak langsung percaya. Dia mengira David hanya ingin mempermainkannya saja. Saat itu, Rose merasa tidak mungkin pria normal dan ganteng tertarik kepadanya.

”Sampai hari ini saya masih tak bisa percaya. Saya pikir dulu dia hanya ingin mempermainkan saya. Bagaimana pria seperti David bisa mencintai perempuan seperti saya. Lihat saja, tidak ada yang menarik dari diri saya,” ucapnya sambil tersenyum.

Rose keliru. David rupanya benar-benar tulus mencintainya, bukan sekedar mengasihi Rose yang cacat. ”David memperlakukan saya seperti layak perempuan lain yang normal, bahkan bisa dibilang lebih. Dia juga selalu mengatakan bahwa saya cantik,” bebernya.

Setelah setahun pacaran, David tiba-tiba melamarnya. Diakui oleh Rose, momen itu tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya.

”Hari itu adalah saat terindah dalam hidup. Saya pikir saya tidak akan pernah mengalaminya. Ternyata Tuhan memberikan saya seorang pria yang baik dan berani serta tidak malu untuk menikahi seorang perempuan yang badannya tinggal separuh seperti saya,” ucapnya.

Dari pernikahan mereka lahir dua anak bertubuh normal yang kini berusia 13 tahun dan 6 tahun. Meski begitu, dokter sudah memperingatkan Rose agar tidak hamil, apalagi melahirkan. Mereka beranggapan risikonya sangat besar dan bisa berakibat kematian.

Bisa melahirkan dan melakukan banyak keterampilan membuat Rose Siggins merasa sempurna. Apalagi anak-anaknya bangga akan ibu mereka. Bagaimana kebahagiaannya?


Kondisi fisiknya yang memang tidak sempurna. Namun, Rose selalu berusaha menjadi ibu yang sempurna bagi kedua anak dan istri yang baik bagi suaminya.

Tidak hanya hamil dan melahirkan, Rose mengurus kedua buah hatinya seorang diri meski sesekali suaminya juga ikut membantunya. Ia memandikan, menggendong, dan menemani mereka bermain layaknya seorang ibu yang memiliki fisik normal. Ia juga memakaikan Shelby baju dan mendandaninya.


Semua pekerjaan rumah tangga, dari mulai memasak, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, sampai membersihkan dan merapikan rumah dikerjakannya tanpa bantuan asisten rumah tangga. Bahkan, ia juga berbelanja bahan-bahan makanan dan keperluan rumah tangga sendiri.


Setiap hari ia selalu mengantar dan menjemput kedua anaknya di sekolah dengan mengendarai mobil sendiri yang sudah disesuaikan dengan kondisinya. Rose juga tidak peduli meski dokter sempat mengingatkannya untuk tidak terlalu sibuk. Meski tampak sehat, kondisi tubuhnya tetap saja berbeda. ”Saya ingin mereka bangga memiliki ibu seperti saya. Meski cacat tapi saya mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” harap Rose.


Dia bahagia karena kedua buah hatinya tidak malu. Mereka justru sangat mengidolakannya. Si sulung Luke mengatakan kepada teman-temannya bahwa ibunya sangat keren. Sebab ibunya mahir menggunakan skateboard, dapat menyetir mobil, dan pandai memasak. ”Tidak semua ibu teman-temannya dapat melakukan apa yang ibunya lakukan,” cerita Rose dengan berbinar.

Si kecil Shelby pun demikian. ”Shelby sangat menyayangi saya. Dia senang dengan kondisi tubuh saya yang pendek sebab saya seukuran sama dengannya,” tuturnya.

Saat anak-anaknya pertama kali masuk sekolah, sebelum hari pertama masuk Rose terlebih dahulu mendatangi teman-teman mereka. Rose meminta mereka untuk tidak mengejek anak-anaknya karena memiliki ibu seperti dirinya.


”Saya bersyukur memiliki dua anak yang luar biasa mencintai saya, dan suami yang setiap hari rasa cinta selalu bertambah. Saya memang tidak sempurna secara fisik. Namun sebagai perempuan, saya merasa hidup saya sangat sempurna,” tegasnya.

Bagi Rose, keterbatasan fisik tidak seharusnya menghalangi kita untuk menjadi orang yang dapat dihargai. Dia juga terus membiarkan mimpi-mimpinya hidup. Dia yakin setiap pencapaian dimulai dari keputusan untuk mencoba. Belajar, terus mencoba, hingga kita mampu menguasainya.

Menurutnya, saat orang lain lebih dulu sukses sementara dirinya masih gagal, itu bukanlah kiamat. Keberanian untuk terus berusaha adalah yang terpenting.

Saat dirinya berada pada posisi sangat sulit dan seluruh dunia bertentangan dengannya, Rose tidak menyerah. Dia yakin akan ada suatu masa ketika semua keadaan berbalik 180 derajat.


”Banyak penyandang cacat merasa bahwa hidupnya selalu berutang budi kepada orang lain. Tapi saya membuktikan tanpa bantuan siapa pun saya bisa hidup dengan baik dan mandiri layaknya orang normal. Jadi pesan saya: Jangan takut. Percayalah bila Tuhan memberi Anda keterbatasan, pasti Tuhan memberi kelebihan pada hal lain. Saya buktinya,” tegasnya.

Benda Terpenting adalah Papan Seluncur


Bagi Rose skateboard atau papan seluncur adalah benda paling penting bagi hidupnya. ”Saya tidak bisa pergi kemana-mana tanpa benda ini. Benda ini membuat saya tidak terlihat cacat. Malah menurut anak-anak saya, membuat saya keren,” ucapnya sambil tersenyum.


Luke belajar mengendarai papan seluncur dari Rose. Menariknya, Luke juga memulai belajar dari posisi duduk seperti saat dulu ibunya mulai belajar.

Papan seluncur Rose berbeda dari yang dijual di toko. Papan yang dijual bebas biasanya terlalu rendah ke tanah. ”Itu membuat lengan saya tidak bisa lurus saat mendorong,” kata Rose yang saat kali pertama menggunakan papan seluncur merasakan sakit pada tangannya.

Rose lantas memodifikasi papan seluncur sehingga nyaman untuk kondisi tubuhnya. Papan pun juga lebih ringan. Untuk mendapatkan papan seluncur yang pas, Rose memang harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal daripada harga papan biasa.


Sumber Inspirasi :



Women Defied Doctors Warnings To Become The World’s Shortest Mom





The Woman With Half A Body – Extraordinary People





rose siggins





rose siggins






RIP: US Woman With Half A Body Dies At 43 – Rose Siggins





Ada kalanya didalam hidup ini kita berusaha untuk mencari apa talenta yang telah diberikan Tuhan kepada kita bukan selalu melihat sisi kekurangan saja. Suatu saat manusia akan menikah dan berumah tangga, hendaknya tidak selalu mencari kekurangan masing-masing pasangan. Berusahalah menjadi istri yang mau mendampingi suami dalam suka dan duka. Juga jadilah suami yang mau menerima keadaan istri apa adanya. Hidup berumah tangga akan lebih bahagia apabila ada rasa bersyukur dan kerjasama didalamnya. Tuhan Yesus pasti Memberkati. Amen.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. – 1 Tesalonika 5:18

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. – Filipi 4:13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger Widgets